Sunday, March 20, 2016

Tak Perlu

Agak terusik dengan pertanyaan,"kamu paham?" hanya karena kamu memahami dalam diam.

Seharusnya kamu tak perlu bertanya.


Sunday, August 31, 2014

Dia Punya Masalah

Dia punya masalah.
Umurnya 5 tahun, ibunya sedang pergi ke pasar, namun para tamu sudah datang.
Dia sudah mempersilakan para tamu masuk ke dalam, seperti yang biasa ibunya lakukan.
Sekarang dia harus menyuguhkan sesuatu.
Minuman!

Dia sudah pernah membuat sirup sendiri, jadi itu tak masalah baginya.
Lalu masalahnya?
Dia tak pernah membawa nampan berisi gelas sebanyak itu.
Lima buah gelas.
Dia takut gelasnya bergeser-geser saat dia membawanya.
Dia takut airnya tumpah.
Dia takut gelasnya jatuh lalu pecah.
Dia takut membawa nampan. Dia tidak berani.

Jadi dia membuat sirup pelan-pelan, mengulur waktu.
Barangkali ibunya pulang ke rumah selagi dia membuat sirup.

Namun ibunya tak kunjung pulang.
Dan kelima gelas sirup telah siap dihidangkan.

Dia punya masalah. Masalah yang besar.
"Bagaimana kalau gelasnya jatuh?
Bagaimana kalau airnya tumpah?
Bagaimana kalau aku tak berhasil membawanya?", tanyanya terus dalam hati.
Ibunya masih belum pulang, dia tak bisa menunggu lebih lama lagi.

"Baiklah, aku akan mencobanya!", bisiknya pada diri sendiri.
Lalu dengan kedua tangan mungilnya, dia membawa nampan berisi 5 gelas sirup ke ruang tamu.
Apakah dia berhasil?

Ibunya pernah bilang,"yang penting kamu sudah berusaha, nak".

Yang penting kamu sudah berusaha.

Wednesday, March 26, 2014

Kamu Bisa Melihatku


Kamu bisa melihatku
Di antara hujan dan tanah, awan dan lautan, bunga dan serbuknya.
Kamu benar-benar bisa melihatku
Di saat dedaunan bergemerisik, ilalang berbisik dan pasir gurun berpindah letak.
Atau jika kamu terlalu sibuk dengan dirimu sendiri,
kamu masih bisa melihatku.
Ketika kamu menggosok mata karena kemasukan debu,
membenarkan baju yang tak rapi,
atau menata kembali rambutmu.
Walaupun katanya aku tak dapat terlihat oleh mata,
aku bisa kamu lihat. Kamu bisa melihatku.
Asalkan kamu
berhenti sejenak dan mengamati.




Dari angin,
kepada orang-orang yang berlalu-lalang.


Tuesday, February 4, 2014

dari Cipaganti ke Setiabudhi

Tadi siang Warih nanya via bbm,"kok belum ada post baru sih?" Hahaha maaf ya, emang jarang ngeblog. Tapi kebetulan, ga kebetulan juga sih, pas tadi waktu perjalanan pulang di angkot, kepikiran untuk nulis ini. Jadi begini...

Cita-cita. Menurut KBBI, cita-cita adalah keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran atau tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan). Aku rasa, cita-cita adalah hal alami yang dimiliki manusia. Cita-cita pun berbagai macam. Ada cita-cita jangka pendek, jangka panjang, cita-cita yang membutuhkan perjuangan agar tercapai, cita-cita yang mudah tercapai, bahkan cita-cita yang rasanya hampir mustahil.

Akupun memiliki cita-cita. Cita-cita ini mungkin tidak sesulit cita-citaku yang lain. Dan sesungguhnya aku tidak tahu apa manfaatnya. Namun aku sangat ingin melakukannya. Aku pernah menulis di sini bahwa suatu saat aku akan ke Bandung lagi, dengan waktu yang lebih lama dari sebelumnya.

Terlihat sederhana dan kupikir itu adalah hal yang mudah, namun sayangnya tidak juga. Sudah 2 tahun aku tidak mengunjunginya. Tapi rasanya ada baiknya juga tidak ke sana dalam waktu dekat, aku ingin membiasakan diri untuk tidak terlalu ingin pergi ke Bandung. Karena aku rasa, seberapa kali pun aku ke sana, aku akan ingin ke sana lagi.

Kampung halaman memang tempat yang paling bermakna. Bagi seseorang yang sering berpindah tempat tinggal, memiliki sebuah kota yang begitu dicintai adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Mungkin ini terdengar remeh, namun suatu hari aku ingin berjalan kaki dari ujung selatan Jalan Cipaganti sampai ke Jalan Setiabudhi. Cukup sampai taman seberang Supermarket Setiabudhi. Cukup sampai situ.
Aku ingin merasakan betapa tingginya pepohonan di sepanjang Jalan Cipaganti, aku ingin merasakan betapa menyenangkannya tak sengaja menginjak dedaunan yang gugur, aku ingin merasakan betapa lamanya usia rumah-rumah di Jalan Cipaganti dan Setiabudhi.

Namun bila ternyata keadaan jalan-jalan tersebut telah berubah, aku tetap ingin melakukannya. Aku ingin mengingat bahwa aku pernah berada di sana.

Jalan Cipaganti, sumber: Google

PS: Dulu waktu masih tinggal di Bandung, aku sering jalan kaki dari Masjid Cipaganti ke EF Cipaganti. Beberapa kali juga jalan kaki dari rumah di Setiabudhi ke depan kantor pos buat beli Cireng Cipaganti, atau dari rumah ke depan panti asuhan di Jalan Cipaganti buat beli Brownies Amanda. Aku juga pernah nyoba jalan kaki dari SDN Banjarsari di Jalan Merdeka ke rumah di Jalan Setiabudhi, tapi sayangnya waktu itu lewat Jalan Cihampelas, bukan Jalan Cipaganti. Rasanya, berjalan kaki dari Cipaganti ke Setiabudhi akan sangat menyenangkan!

PS lagi: Bagi yang penasaran, silakan buka link ini untuk melihat peta Cipaganti-Setiabudhi.

Friday, December 20, 2013

Mirip

"Kok kamu tau sih?"
"Kan aku kayak kamu, Qon."

Selalu menyenangkan bertemu dengan orang yang berkarakter mirip. Sedikit saja kau membuka lembar buku, dia sudah tahu keseluruhan isi buku yang ingin kau tunjukkan. Lagipula ia mengingatkanmu akan kenyataan bahwa kamu tidak berbeda.

Saya teringat pada salah satu buku, Personality Plus karya Florence Littauer. Pertama kali saya membaca buku ini adalah pada saat SMP, meminjam dari seorang teman. Merasa familiar dengan sampul buku tersebut, saya mengecek lemari buku di rumah saya. Ternyata ayah saya punya buku ini juga! Semenjak itu buku Personality Plus berpindah tempat ke lemari buku kamar saya. Florence Littauer mengatakan bahwa salah satu kepastian yang menakjubkan pada diri orang melankolis adalah keyakinannya bahwa tidak ada seorangpun lainnya dalam kehidupan yang tepat seperti dirinya.

Tapi kan memang setiap orang berbeda-beda, tidak ada yang tepat seperti dirinya. Tapi kalau yang mirip, setuju deh banyak.

Nah sesungguhnya ini yang suka terlupa, kalau sedang mumet dengan pikirannya sendiri dan seakan-akan tidak ada yang mengerti, ada kok. Ada orang-orang yang mirip kamu, yang pola pikirnya mirip. Yang memahami. Jadi tenang saja, dunia masih berputar.