Saturday, May 22, 2010

Obsesi? Ambisi?Tugas Gaul

Halo halo :D
Sudah lama saya tidak berposting-ria. Selain karena sekolah, saya juga sedang tidak punya ide mau nulis apa. Kenapa? Setelah saya pikir-pikir, saya menemukan alasannya. Ternyata, saya menemukan mood nulis saya pada saat saya sedang badmood. Entahlah, tapi di saat saya sedang kesal, marah, dan ingin meluapkan emosi saya, di saat itulah saya memiliki feel menulis.
Di saat itu, saya dapat menulis dengan lancar, mengungkapkan emosi saya. Sebenarnya saya tidak ingin tergantung pada hal tersebut. Saya ingin dapat menulis di perasaan apapun, di waktu apapun. Saya ingin menulis sesuatu yang bukan keluhan. Karena saya tahu, saya lebih sering menulis kekesalan saya, keluhan saya.

Hey apakah saya sedang mengeluh?
Saya rasa tidak, saya sedang senang sekarang :)
Karena saya mendapat pelajaran berharga dari pengalaman saya, tetapi sayangnya pelajaran berharga tersebut tidak dapat saya susun ke dalam kata-kata. Pokoknya saya merasa lega. Kemarin, saya merasakan keambisiusan saya. Saya berjuang untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu yang saya cari. Saya berpikir keras- sangat keras. Dan ternyata hasilnya nihil. Emosi saya yang labil langsung meledak-ledak di dalam hati. Lalu saya mencoba mendinginkan emosi saya, dan saya pun terlelap-tidur. Dan menurut saya, saya mendapatkan mimpi yang indah pada tidur saya kali itu.
Setelah saya terbangun di keesokan paginya, saya sudah tenang. Dan seperti yang kita tahu, hati yang tenang akan menimbulkan pikiran yang jernih. Dan di saat itulah saya menemukan jawabannya. Obsesi tanpa ambisi.

Ganti topik, saya ingin menceritakan tentang keluarga saya.
Isa ikut ekskul (atau semacamnya) pidato. Kemarin ibu saya memperlihatkan teks pidato yang Isa buat. Singkat-padat-jelas, haha saya tersenyum. Dasar anak kelas satu SD :p
Salsa mendapatkan tugas dari guru komputernya. Tugasnya lucu (menurut saya). Tugasnya adalah "membuat akun Facebook" hahaha. Biasanya tugas komputer SD itu kan microsoft word, excel, atau kalau yang berhubungan dengan internet yaa bikin email. Jangan-jangan nanti dapet tugas membuat account Twitter, Tumblr, Plurk,dll. Haha dasar anak SD jaman sekarang, tugas gaul \m/

Friday, May 14, 2010

Menulis

Apa yang biasanya kamu lakukan pada saat senggang?

Saat senggang? Wow sudah lama saya tidak mendengar kata itu.

Tapi beberapa waktu yang lalu (tepatnya beberapa minggu yang lalu) saya mengisi waktu luang dengan.. dengan apa ya? Oh iya, dengan menggambar atau menulis. Ya, menulis adalah hal yang menyenangkan. Menjelaskan apa yang ada di pikiran kita, susah. Lalu barusan saya iseng-iseng baca tulisan-tulisan saya yang tersebar di mana-mana. Saya jadi ingat akan sesuatu yang mengganjal pikiran saya saat itu.

"...Dan karena anda tahu, anda sendiri tidak mengerti bagaimana masalah tersebut, bahkan apa masalahnya. Anda hanya tahu ada sesuatu yang salah dalam diri anda. Dan itu menyakitkan..."

Wow, sekarang saya mengerti apa yang saya maksudkan dengan masalah pada saat itu. Bukankah hal itu adalah sesuatu yang lucu? Maksud saya, saya menulis hal itu berminggu-minggu yang lalu. Dan saya baru mengerti sekarang, setelah saya baca ulang. Kok aneh ya.


Lalu ada cuplikan lain lagi:
"...Saya hanya tahu bahwa ada lubang yang menganga lebar di sini. Terlihat jelas ada sesuatu yang sebelumnya tertancap dengan kuat dan kokoh lalu dicabut. Bekas cabutan tersebut menyisakan lubang, yang sungguh terlihat berantakan..."


Saya dapat membayangkan perasaan saya saat itu. Sakit.



"...aku sering memerhatikan apa yang lingkungan suguhkan kepada para pengguna jalan. Aku senang melihat semua itu, memerhatikan bangunan-bangunan yang berjejer di pinggir jalan secara sekilas. Menimbulkan kesan tersendiri di pikiranku..."


Perasaan yang tenang, damai sekali.



Banyak kejadian-kejadian yang kita alami dalam satu hari. Baik itu menyenangkan, menyedihkan, menyakitkan, menggorengkan (haha apa ini?), membuat kita merasa melonjak (?). Dan saat kamu melihat ulang kejadian tersebut, kamu akan ingat perasaan yang timbul saat itu.




Menulis itu indah :D

Wednesday, May 5, 2010

Terkadang menjalani aktivitas sehari-hari itu berat.

"Bangun jauh mendahului matahari, mendahului ayam berkokok , dan berpacu dengan waktu.
Sealant dilakukan secepat mungkin, dengan perhitungan yang dipaksakan bersistematis. Sampai di sekolah, sesaat kemudian bel berbunyi. Bahkan tidak jarang bel telah mendahului.

Pelajaran dimulai, mencoba berkompromi dengan otak, melupakan hal yang tidak harus terpikirkan saat itu. Tetapi pagi ini terasa sungguh berat. Setelah berkompromi dengan otak,rupanya fisik ini tidak ingin bekerjasama. Seakan-akan menuntut untuk beristirahat. Padahal malamnya sudah beristirahat selama 8 jam. Apa itu belum cukup? Bahkan menampar-namparkan tangan ke pipipun terlihat tidak berguna.

Bel istirahat pertama berbunyi. Baru menyadari bahwa ada tugas yang belum terselesaikan. Mencoba menetapkan pikiran untuk menuntaskan pekerjaan ini bahkan tidak peduli akan rasa lapar. Sayangnya, ada perasaan negatif saat mengerjakannya.

Pulang sekolah, menaiki angkutan umum. Semua terasa begitu lambat. Sampai di rumah sudah mendekati maghrib. Jam menunjukkan pukul 17.30. Sambutan dingin akan tugas dan ulangan mulai menyeruak. Apakah akan terus begini?"


Ilustrasi di atas sering terjadi di kehidupan sehari-hari saya, apalagi akhir-akhir ini (kelas XI). Semua tampak lebih berat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tetapi saat semua tidak terlalu menjerat, saat terjadi kejernihan dalam berpikir, saya menemukan jawabannya. Ya memang itulah kehidupan yang nyata, nikmati saja semua itu. Karena hal itu akan menjadi pengalaman yang indah untuk dikenang di kemudian hari, juga sebagai pelajaran berarti untuk menginstropeksi diri. Toh masih banyak orang-orang yang jauh lebih sibuk dari saya. Sibuk beraktifitas juga sibuk dalam pikiran (baca: berpikir).

Jadi untuk apa saya mengeluh? Apakah dengan mengeluh saya dapat menyelesaikan semua itu? Tidak bukan?

Maka berpikir positif adalah penyelesaiannya, anggap saja semua ini adalah petualangan besarku. Bukankah itu yang pernah saya cari?

Lalu saya tersadar, bagian dari diri saya (baca: pemikiran yang jernih) telah mengajari sesuatu yang berharga.


Terima kasih, no pain no gain.