Wednesday, May 5, 2010

Terkadang menjalani aktivitas sehari-hari itu berat.

"Bangun jauh mendahului matahari, mendahului ayam berkokok , dan berpacu dengan waktu.
Sealant dilakukan secepat mungkin, dengan perhitungan yang dipaksakan bersistematis. Sampai di sekolah, sesaat kemudian bel berbunyi. Bahkan tidak jarang bel telah mendahului.

Pelajaran dimulai, mencoba berkompromi dengan otak, melupakan hal yang tidak harus terpikirkan saat itu. Tetapi pagi ini terasa sungguh berat. Setelah berkompromi dengan otak,rupanya fisik ini tidak ingin bekerjasama. Seakan-akan menuntut untuk beristirahat. Padahal malamnya sudah beristirahat selama 8 jam. Apa itu belum cukup? Bahkan menampar-namparkan tangan ke pipipun terlihat tidak berguna.

Bel istirahat pertama berbunyi. Baru menyadari bahwa ada tugas yang belum terselesaikan. Mencoba menetapkan pikiran untuk menuntaskan pekerjaan ini bahkan tidak peduli akan rasa lapar. Sayangnya, ada perasaan negatif saat mengerjakannya.

Pulang sekolah, menaiki angkutan umum. Semua terasa begitu lambat. Sampai di rumah sudah mendekati maghrib. Jam menunjukkan pukul 17.30. Sambutan dingin akan tugas dan ulangan mulai menyeruak. Apakah akan terus begini?"


Ilustrasi di atas sering terjadi di kehidupan sehari-hari saya, apalagi akhir-akhir ini (kelas XI). Semua tampak lebih berat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Tetapi saat semua tidak terlalu menjerat, saat terjadi kejernihan dalam berpikir, saya menemukan jawabannya. Ya memang itulah kehidupan yang nyata, nikmati saja semua itu. Karena hal itu akan menjadi pengalaman yang indah untuk dikenang di kemudian hari, juga sebagai pelajaran berarti untuk menginstropeksi diri. Toh masih banyak orang-orang yang jauh lebih sibuk dari saya. Sibuk beraktifitas juga sibuk dalam pikiran (baca: berpikir).

Jadi untuk apa saya mengeluh? Apakah dengan mengeluh saya dapat menyelesaikan semua itu? Tidak bukan?

Maka berpikir positif adalah penyelesaiannya, anggap saja semua ini adalah petualangan besarku. Bukankah itu yang pernah saya cari?

Lalu saya tersadar, bagian dari diri saya (baca: pemikiran yang jernih) telah mengajari sesuatu yang berharga.


Terima kasih, no pain no gain.

2 comments:

  1. wow sgt menjunjung sastra -__-
    terkadang rutinitas itu membosankan memang

    ReplyDelete
  2. Sayangnya rutinitas itu adalah sesuatu yang sebenarnya saya butuhkan. Tetapi ketidaksadaran menjadi penghalang untuk mengetahui hal tersebut -__-

    ReplyDelete