Monday, June 28, 2010

Orbit Kehidupan

Setelah membaca note teman saya, saya jadi tersadar. Menjadi berpikir tentang kehidupan yang akan datang, tentang nanti yang menunggu di sana. Sekarang kami (kelas akselerasi smala angkatan 9) memang berada di lingkup kehidupan yang sama. Di kelas yang sama. Hal-hal seru, susah, senang, sedih kita alami bersama. Tetapi suatu hari nanti, setengah perjalanan lagi kami akan berpisah mengikuti orbit kehidupan masing-masing. Suatu hari nanti orbit kehidupan kami tidak lagi bersinggungan, akan berpisah.

Satu tahun terasa begitu cepat. Aku tak pernah menyangka akan bertemu dengan kelas ini, dengan keunikan tertera pada setiap penghuninya. Hey, kalian sudah menjadi bagian dari kehidupan saya begitu cepat. Hey, saya terlalu takut untuk melihat sesuatu satu tahun lagi. Saya tak bisa membayangkan untuk melepas bagian-bagian ini. Apakah nanti akan sama?

Satu tahun lagi, teman. Satu tahun lagi.

Semoga suatu saat orbit kehidupan kami bersinggungan lagi.

Wednesday, June 23, 2010

Bermain Bergembira Bersama Adik Tercinta wow!

Jarang-jarang saya menghabiskan waktu untuk bermain bersama kedua adik saya. Dasar kakak yang sombong -_-. Padahal dulu saya sering banget main sama kakak saya. Giliran jadi kakak, eh malah sok sibuk. Dasar egois, mau enaknya aja haha.
Baru-baru ini saya buka-buka laptop -ga ada kerjaan. Dan saya menemukan foto-foto saat sedang bermain dengan adik-adik saya.

Jumat, 28 Mei 2010
Pagi yang indah. Jelas indah, karena hari ini hari libur. Sebenarnya tidak libur sepenuhnya, karena selasa depan ada UAS. Sudah sewajarnya jika hari ini diisi dengan belajar, tetapi tidak bagi Qonita. Dia ingin libur secara nyata hari ini. Oleh karena itu, dia mengajak adik-adiknya bermain. Dia pun mengambil sekotak plastic crayon lalu mengisyaratkan kepada adik-adiknya untuk mulai menggambar. Dia sendiri tidak menggambar, ia lebih suka memperhatikan adik-adiknya menggambar dengan leluasa. Sambil memegang handphone, ia mulai memotret adik-adiknya yang sedang asyik menggambar. "Yang aku jangan dulu mbak, nanti aja kalau udah jadi," sela Salsa. Ya sudah, Qonita memutuskan untuk memotret Isa dan gambarnya saja.

 Mencari inspirasi


Gambarnya isa



Mungkin ada yang bertanya,"Mana gambarnya Salsa?" berhubung Salsa bilang nanti aja yaudah ga kufoto saat itu juga. Dan setelah interval waktu yang cukup panjang, Salsa tak kunjung mengabari. Sayang sekali, Sal.

Friday, June 18, 2010

Apa?

Pernah merasa lidah mati rasa?
Pernah merasa kesal dengan hal yang tidak harus dikesalkan?
Pernah merasa bahwa sederhana itu sangatlah rumit?
Pernah merasakan hal yang bertolak belakang sekaligus?
Pernah merasa sangat kosong saat penuh?
Pernah merasa sedih saat tertawa lepas, sangat lepas?

Tidak stabil. Saya ulangi, sangat tidak stabil. Tidak logis, tidak realistis. Ada apa ini?

Sesuatu yang dirasakan tetapi tidak dapat dimengerti. Sesuatu yang membuat jenuh untuk dipikirkan. Sesuatu yang tidak semudah hal yang rumit. Sesuatu yang membosankan tanpa terlihat. Sesuatu yang menjengkelkan dan berputar-putar. Sesuatu yang saya tidak mengerti sedikitpun. Jangan mengganggu, ada apa ini?

Thursday, June 10, 2010

Menyerah

Sudah lama saya tidak membuka blog. Sudah lama juga saya tidak mengeluarkan isi kepala saya (baca: unek-unek). Hah kangen kangeeen!
Berita baru, baru saja kami melewati masa-masa UAS yang indah luar biasa itu. Aduh males ngebahasnya. Super takut dengan hasilnya hah. Jadi itu penyebab saya jarang sekali berposting-ria.

Sebenarnya hal yang ingin saya bicarakan adalah tentang kata menyerahBeberapa waktu yang lalu, saya dihadapkan pada dua pilihan. Dan saya berpikir,"Kenapa ga ada pilihan menyerah? Padahal aku udah capek dengan kebodihan ini." Saya kesal. Sakit luar dalam -mengingat saat itu adalah musim UAS. Saya diserang dari segala penjuru arah. Pikiran, mental, fisik. Saya harus segera menyelesaikan masalah itu. Sayangnya saya hanya punya dua pilihan. Dan pilihan itu sama-sama berjuang. Saya lelah, terlalu lelah. Saya sudah mendekati titik jenuh -pada saat itu.

Ayolah kepala saya berat. Tetapi masalah itu sedikit terlupakan, saya harus mengurusi UAS dulu. Sedikit-banyak, masalah itu mengganggu konsentrasi saya. Hey apa-apaan ini, kasihan UAS saya. Dan di sela-sela kesibukan UAS, saya mendapatkan sedikit celah. Saya tersadar. Ada hal penting yang saya lewatkan. Ternyata dari dua pilihan besar, salah satunya adalah berjuang -berjuang untuk menyerah.

Ini dia, selama ini saya menduga perjuangan itu jauh dari kata menyerah. Saya melewatkan satu titik penting. Bukankah menyerah (dalam hal ini) merupakan perjuangan untuk mengikhlaskan masalah itu selesai. Bukan dengan melupakannya, atau berlari menghindari masalah itu. Ya, saya tahu bahwa berat untuk melakukan hal itu. Selama ini saya merasa sayang untuk melepas masalah itu. Aneh? Ya itulah saya. Karena saya tidak suka ada perubahan, saya terlalu keras kepala, saya takut berubah. Dan masalah itu sudah menjadi kebiasaanku. Jadi saya butuh perjuangan yang berat untuk menyerah. Berjuang untuk menyerah menjadi pilihan saya, maaf saya harus berubah. Agar tidak terjadi kekacauan lebih lanjut. Saya sudah cukup kacau.

Saya menyerah, dan saya berjuang akan hal tersebut. Saya tidak kalah.