Friday, January 27, 2012

Pada Saat...

Pada saat komandan memerintahkan ,"Kamu begini, kamu begitu, kamu diam di tempat, kamu pergi ke sana, kamu berbalik ke belakang, kamu maju terus ke depan, kamu pakai ini, kamu pakai itu, kamu lempar ini ke sana dan ke sana!"
Lalu habislah balatentara yang tersisa.
Aku mendekat lalu bertanya hati-hati ,"Lalu bagaimana dengan saya, Komandan?" Ah suaraku terlalu kecil rupanya. Mau kuulangi kalimat tadi, namun teringat sesuatu ,"Oh iya, aku kan bukan termasuk tentara itu. Tak berhaklah aku."
Padahal sudah resmi dilantik kemarin lusa.


Di Saat Tersulit Sekalipun

Di saat terbahagia,
di saat tersedih,
di saat menjadi pusat perhatian,
di saat tak dianggap,
di saat matahari terik menyinari,
di saat awan hitam merajai langit

  Senyum, Qonita. Senyum! 
*sambil nodongin pistol ke kepala*
*tapi isinya kosong, pelurunya terbuang*

Lalu hidup pun berjalan normal.

Friday, January 6, 2012

Speechless Baca Ini

"Apakah kau ingin bicara tentang ini?" Barton menawarkan tanpa diminta.
Barney menggeleng dan duduk. "Maaf, kalau aku lepas kendali. Ini pertama kali aku..."
"Kehilangan pasien?" Barton menyelesaikan pikirannya.
Barney mengangguk. "Rasanya mengerikan. Kalau saja aku mengambil alih tanggung jawab, aku mungkin bisa menyelamatkan nyawa orang malang itu." Ia mengangkat wajah dan bertanya, "Apakah kau pernah kehilangan pasien?"
"Ya," Barton mengaku, "dan kalau ini menghibur, rasanya makin menekan tiap kali kau mengalaminya."
"Maksudmu, kau sudah kehilangan banyak pasien?" Barney bertanya terperanjat.
"Dengar, Nak, menurut data statistik mahasiswa kedokteran rata-rata 'membunuh' tiga pasien sebelum mereka jadi dokter. Dan tak seorang pun mencatat lagi sesudah itu."
Barney menggeleng pedih. "Kurasa aku tidak mampu menghadapi hal ini lagi."
Dikutip dari: Doctors - Erich Segal

Oke, ini hanya sebuah novel, cerita fiksi kan? Lagipula yang menentukan kematian kan Allah, bukan kita *tarik nafas* *hembuskan*.