Friday, December 20, 2013

Mirip

"Kok kamu tau sih?"
"Kan aku kayak kamu, Qon."

Selalu menyenangkan bertemu dengan orang yang berkarakter mirip. Sedikit saja kau membuka lembar buku, dia sudah tahu keseluruhan isi buku yang ingin kau tunjukkan. Lagipula ia mengingatkanmu akan kenyataan bahwa kamu tidak berbeda.

Saya teringat pada salah satu buku, Personality Plus karya Florence Littauer. Pertama kali saya membaca buku ini adalah pada saat SMP, meminjam dari seorang teman. Merasa familiar dengan sampul buku tersebut, saya mengecek lemari buku di rumah saya. Ternyata ayah saya punya buku ini juga! Semenjak itu buku Personality Plus berpindah tempat ke lemari buku kamar saya. Florence Littauer mengatakan bahwa salah satu kepastian yang menakjubkan pada diri orang melankolis adalah keyakinannya bahwa tidak ada seorangpun lainnya dalam kehidupan yang tepat seperti dirinya.

Tapi kan memang setiap orang berbeda-beda, tidak ada yang tepat seperti dirinya. Tapi kalau yang mirip, setuju deh banyak.

Nah sesungguhnya ini yang suka terlupa, kalau sedang mumet dengan pikirannya sendiri dan seakan-akan tidak ada yang mengerti, ada kok. Ada orang-orang yang mirip kamu, yang pola pikirnya mirip. Yang memahami. Jadi tenang saja, dunia masih berputar.

Friday, September 13, 2013

Menunggu

Menunggu adalah hal yang tidak disukai banyak orang. Menunggu kendaraan umum, menunggu giliran ujian, menunggu kiriman datang, menunggu rekan saat janji bertemu, menunggu hujan berhenti, menunggu unduhan internet, menunggu pengumuman, dan masih begitu banyak menunggu lainnya. Saya juga tidak suka menunggu. Membuang-buang waktu dan tidak efektif. Padahal ada begitu banyak kegiatan yang bisa kita lakukan daripada sekedar menunggu.

Dan ada satu lagi perihal menunggu yang terkadang menghawatirkan, menunggu seseorang yang tepat datang ke kehidupanmu. Ah, tahulah maksudku. Seringkali begitu bosannya menunggu kapan seseorang itu datang sehingga terburu-buru mencari-cari. Mencari-cari yang tak jarang membawa petaka. Terburu-buru memilih seakan sudah tepat.

Padahal tidak perlu tergesa.
Padahal diri ini pun belum siap.

Lagipula, orang yang ditunggu tidak akan datang dengan tergesa, kok. Orang itu akan datang dengan pikiran penuh pertimbangan, hati penuh keyakinan dan raga penuh persiapan.

Orang yang ditunggu tidak akan datang begitu saja, tidak akan datang dengan tiba-tiba. Orang itu akan datang setelah kita berdoa dari hari ke hari, malam ke malam, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Berdoa agar dipertemukan dengan orang yang tepat. Orang itu akan datang setelah kita menunggu sembari memperbaiki diri, menyiapkan hati dan kemampuan, menyerap ilmu-ilmu, berlatih manajemen waktu, dan persiapan lainnya yang terkadang, sepertinya, naik turun tingkat kematangannya.

Tak usah kesal menunggu lalu terburu-buru menentukan orang yang dikira tepat, yang ternyata tidak, dan terlanjur meruntuhkan benteng-benteng pertahanan hati. Padahal sudah susah payah dibangun dengan segenap usaha.

Daripada jatuh hati terburu-buru kemudian terluka dalam-dalam, bukankah lebih baik menjaga hati dan menunggu?

Menunggu sambil berbenah. 
Menunggu sambil bersiap-siap.

Agar pada waktu yang tepat, segalanya telah siap. Tidak terburu-buru, melainkan melalui proses tahap demi tahap. Proses yang akan melahirkan kematangan diri, tanpa harus capek-capek terluka.

Jadi apakah saya mau menunggu? Tentu saja. Saya bersedia menunggu dengan segala prosesnya, sampai hari itu datang.


Dan sepertinya tulisan kali ini terlalu terus terang....

-Di saat seharusnya menulis artikel Post Campus.

Tuesday, July 30, 2013

Melemah

Kurasa aku sedang melemah
Pada terik matahari yang menguapkan embun pagi
Pada endapan tanah yang memperdangkal sungai-sungai
Pada hentakan angin yang menggugurkan dedaunan
Pada pikiran yang sibuk menerka

Sebenarnya
Akan ada saatnya embun datang kembali
Besok pagi, asalkan aku mencarinya sebelum matahari cukup hangat
Akan ada saatnya hujan turun dengan derasnya,
meningkatkan kecepatan aliran sungai dan mengikis tanah-tanah
Dan dedaunan yang telah jatuh,
tetap dibutuhkan pohon sebagai penyubur alami
Serta pikiran yang tak menyehatkan suatu saat akan meluruh pula

Suatu saat? Kapankah itu?
Ketika hati sudah cukup kuat mengimbangi

Sunday, April 14, 2013

Proses

Di awal kau harus siap menghadapi kegagalan, namun seringnya kau terlupa. Mungkin karena terlalu percaya akan berhasil, walau itu sebenarnya hanyalah perkiraanmu, tanpa dilandasi bukti yang cukup kokoh.

Di pertengahan kau seharusnya mulai khawatir, namun kau selalu menemukan berbagai cara, menghapus kekhawatiran yang sebenarnya ada. Padahal kekhawatiran itu penting sebagai kontrol agar tetap pada batas, agar tidak terlalu berspekulasi.

Dan di akhir kau menyesali, berpikir seharusnya tidak bertindak begini dan begitu. Berpikir seharusnya tidak berspekulasi keluar batas. Tak usah berlarut-larut, lebih baik meningkatkan kualitas diri, memperbaiki apa-apa yang ternyata salah agar memperkecil peluang gagal di lain waktu.

Sesederhana itu? Tidak, semua ini tidak pernah sederhana.

Saturday, April 6, 2013

Pesan di Pagi Hari

Rendahkan ekspektasi akan apresiasi dan berbahagialah

Karena terus berekspektasi namun tak kunjung dapat apresiasi itu melelahkan
Belajar ikhlas, karena setiap perbuatan akan dibalas
Berbahagialah, lepaskan beban yang tak seharusnya dipikul lelah
Dan langkahmu akan ringan, seringan serbuk bunga yang terhembus angin

Sunday, February 10, 2013

Agrowisata





Kusuma Argowisata, Batu.







Agrowisata Bhakti Alam, Pasuruan

Liburan ini ke dua tempat agrowisata yang berbeda. Di Kusuma Agrowisata banyak banget kebun buahnya. Ada stroberi, apel, buah naga, dan banyak lagi. Buah-buahannya juga punya banyak varietas. Lahannya kalau ditotal sama hotel kata mbak pemandunya sih 75 Hektar. Luas banget :". Cuacanya juga sejuk banget, jelaslah namanya juga di Batu.
Nah, kalau di Agrowisata Bhakti Alam buah unggulannya itu durian. Selain itu, ada kebun melon. Gatau itu apa nama melonnya, warnanya kuning. Kayak yang ada di foto di atas. Di sini cuacanya lebih panas, keringat menetes sepanjang jalan. Selain buah ada juga kebun bunga, bagus-bagus banget. Fix habis ini harus punya kebun bunga di rumah. Oh iya, Agrowisata Bhakti Alam ini luas lahannya 60 Hektar.
Buat yang suka hijau-hijau, cocok banget dateng ke dua tempat itu. Lumayan bisa metik buah juga. Refreshing yang bener-bener fresh.

Thursday, February 7, 2013

Menyampaikan Pesan


Jika kau ingin menyampaikan sesuatu
Yang seharusnya tak disampaikan
Sampaikanlah kepada angin
Yang siap menerima pesan-pesanmu
Yang akan membawanya ke manapun ia pergi

Menghembus melewati padang rumput
Menggemerisikkan dedaunan
Atau melayang ke atas
Sampai tak terbatas

Jika kau ingin menyampaikan sesuatu
Yang bahkan kau tak bisa mengubahnya menjadi secarik pesan
Biarkanlah angin membawanya, menerbangkannya
Agar kau bisa menyampaikan sesuatu
Tanpa harus tersampaikan
Kepada yang tak seharusnya disampaikan

Terbangkanlah selagi tak bisa tersampaikan
Sampai suatu saat kau boleh menyampaikannya,
Sampaikanlah
Kepada yang berhak disampaikan

Monday, January 28, 2013

Penting Tidak Penting



“Ada orang yang tahu ia akan kalah, namun tetap mengikuti permainan.”

“Dan ada juga orang yang tahu ia akan menang, namun memutuskan untuk keluar dari permainan.”

- Pembicaraan dari suatu film yang saya lupa judulnya

...

Susah deh jadi orang melankolis. Kerjaannya mikirin banyak hal, mengkhawatirkan banyak hal. Saking banyaknya sampai lupa sama hal yang penting. Ternyata yang dipikirkan selama ini tidak begitu penting, atau tidak penting sama sekali. Terlalu detil, terlalu kecil. Sampai lupa dengan yang global, lupa dengan inti. 

Sekalinya ga mikirin apa-apa, linglung sendiri nyari-nyari bahan untuk dipikirkan. Tapi bukannya nyari bahan yang penting, malah bahan yang sepele yang dicari. Ah, buang-buang waktu. Padahal sering ngeluh kehabisan waktu.

Tau dari mana yang begini ini namanya orang melankolis? Jangan-jangan hanya aku. Atau mungkin semua orang, atau bisa saja sebagian orang. Bisa jadi yang bukan melankolis juga begini. Ah, sok tau. Tidak penting juga.

Lalu apa hubungannya antara quote di atas dengan tulisan meracau ini? Terhubung kok. Hanya saja ada missing link. Kalau ini tentang soal sebab-akibat, mungkin akan bingung mau menjawab A atau B, benar-benar-berhubungan atau benar-benar-tidak berhubungan.

Ah, penulisnya bingung mau menggunakan bahasa baku apa tidak. Buktinya dari tadi tidak konsisten pakai akhiran –an atau –in untuk kata “pikir” dan juga tidak konsisten pakai kata “tidak” atau “ga”. Peduli amat deh. Padahal sih peduli. Tapi biarkan mengalir seperti air saja.

Ngomong-ngomong tentang air mengalir, jadi ingat lagu Bengawan Solo. Kemarin-kemarin nonton film China di stasiun tv china, latar tempatnya ada sungai gitu. Lalu mengalunlah lagu Bengawan Solo pakai bahasa Mandarin. Kok tau itu lagu Bengawan Solo? Kan ada subtitle. Jadi heboh deh, ada setitik rasa bangga gitu. Padahal ga ikut bikin lagunya.

Tulisan ini penting? Penting mungkin, untuk menyalurkan sesuatu yang butuh dikeluarkan. Tapi tidak penting, isi tulisan ini. Nyampah dikit bolehlah. Banyak juga boleh.

  
Ah, bau liburan