Friday, September 13, 2013

Menunggu

Menunggu adalah hal yang tidak disukai banyak orang. Menunggu kendaraan umum, menunggu giliran ujian, menunggu kiriman datang, menunggu rekan saat janji bertemu, menunggu hujan berhenti, menunggu unduhan internet, menunggu pengumuman, dan masih begitu banyak menunggu lainnya. Saya juga tidak suka menunggu. Membuang-buang waktu dan tidak efektif. Padahal ada begitu banyak kegiatan yang bisa kita lakukan daripada sekedar menunggu.

Dan ada satu lagi perihal menunggu yang terkadang menghawatirkan, menunggu seseorang yang tepat datang ke kehidupanmu. Ah, tahulah maksudku. Seringkali begitu bosannya menunggu kapan seseorang itu datang sehingga terburu-buru mencari-cari. Mencari-cari yang tak jarang membawa petaka. Terburu-buru memilih seakan sudah tepat.

Padahal tidak perlu tergesa.
Padahal diri ini pun belum siap.

Lagipula, orang yang ditunggu tidak akan datang dengan tergesa, kok. Orang itu akan datang dengan pikiran penuh pertimbangan, hati penuh keyakinan dan raga penuh persiapan.

Orang yang ditunggu tidak akan datang begitu saja, tidak akan datang dengan tiba-tiba. Orang itu akan datang setelah kita berdoa dari hari ke hari, malam ke malam, bulan ke bulan, tahun ke tahun. Berdoa agar dipertemukan dengan orang yang tepat. Orang itu akan datang setelah kita menunggu sembari memperbaiki diri, menyiapkan hati dan kemampuan, menyerap ilmu-ilmu, berlatih manajemen waktu, dan persiapan lainnya yang terkadang, sepertinya, naik turun tingkat kematangannya.

Tak usah kesal menunggu lalu terburu-buru menentukan orang yang dikira tepat, yang ternyata tidak, dan terlanjur meruntuhkan benteng-benteng pertahanan hati. Padahal sudah susah payah dibangun dengan segenap usaha.

Daripada jatuh hati terburu-buru kemudian terluka dalam-dalam, bukankah lebih baik menjaga hati dan menunggu?

Menunggu sambil berbenah. 
Menunggu sambil bersiap-siap.

Agar pada waktu yang tepat, segalanya telah siap. Tidak terburu-buru, melainkan melalui proses tahap demi tahap. Proses yang akan melahirkan kematangan diri, tanpa harus capek-capek terluka.

Jadi apakah saya mau menunggu? Tentu saja. Saya bersedia menunggu dengan segala prosesnya, sampai hari itu datang.


Dan sepertinya tulisan kali ini terlalu terus terang....

-Di saat seharusnya menulis artikel Post Campus.